presentasi

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KELOMPOK TYPE STAD DENGAN MEDIA BAGAN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VI SDN PAMEDARAN 03

 

Oleh

                                                               Isnan Hidayat         

Program Studi Manajemen Pendidikan PPS Universitas Negeri Semarang

 

ABSTRACT
This
research aims to (1) increase the activity of the sixth grade students’ mathematics learning with SDN Pamedaran 03 Implementation Group Learning Model STAD with media type chart, (2) improve student mathematics achievement sixth grade at SDN Pamedaran 03 Implementation Group Learning Model STAD with media type chart . Subjects were sixth grade students of SDN 03 Pamedaran academic year 2012/2013 as many as 25 people. This research is a classroom action research was conducted in two cycles. with sixth grade students study subjects SDN Pamedaran 03 half a school year 2012/2013, amounting to 25 people. Student activity data collected by observation and outcome data were collected to test students’ learning outcomes. Furthermore, the data were analyzed by using descriptive analysis. Implementation of actions initiated by dividing the class into 5 groups, delivering learning objectives, deliver learning materials with charts, worksheets doing group work, group presentation, and practice questions. Research results showed: (1) to improve student learning outcomes of the average classical completeness 6,52 and 76% in the first cycle to an average of 7.40, with learning outcomes classical completeness by 92% in the second cycle, (2) can be increase of student activity by 76% in the first cycle and by 92% in the second cycle so that it can be concluded that the application of learning models with chart group type STAD as learning media can be used as an alternative option to the learning of mathematics.

Keywords: Cooperative, STAD, andcharts.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan (1) meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa kelas VI SDN Pamedaran 03 dengan Implementasi Model Pembelajaran Kelompok type STAD dengan media bagan, (2) meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VI SDN Pamedaran 03 dengan Implementasi Model Pembelajaran Kelompok type STAD dengan media bagan. Subjek penelitian adalah siswa kelas VI SDN Pamedaran 03 tahun ajaran 2012/2013 sebanyak 25 orang. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. dengan subjek penelitian siswa kelas VI SDN Pamedaran 03 semester satu tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah  25 orang. Data keaktifan siswa dikumpulkan dengan pedoman observasi dan data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan dengan test hasil belajar. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Pelaksanaan tindakan diawali dengan membagi kelas menjadi 5 kelompok, menyampaikan tujuan pembelajaran, menyampaikan materi pembelajaran dengan bagan, kerja kelompok mengerjakan LKS, persentasi kelompok, dan latihan soal-soal. Hasil Penelitian menunjukkan: (1)dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari rata-rata 6,52 dan ketuntasan klasikal 76% pada siklus I menjadi rata-rata hasil belajar 7,40 dengan ketuntasan klasikal sebesar 92% pada siklus II,(2) dapat meningkatkan keaktifan siswa dari sebesar 76% pada siklus I dan sebesar 92% pada siklus II  sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kelompok type STAD dengan bagan sebagai media pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif pilihan pada pembelajaran matematika.

Kata kunci : Kelompok, STAD, dan bagan.

1.    Pendahuluan

 

1.1      Latar Belakang

Pembelajaran matematika merupakan salah satu bagian dari proses pendidikan di sekolah yang mempunyai peranan sangat penting dalam upaya mengembangkan kemampuan dan keterampilan berpikir serta membentuk sikap peserta didik. Oleh karena itu, di dalam pembelajaran matematika proses komunikasi yang terjadi di antara guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik harus berlangsung secara harmonis. Pada umumnya guru dalam mengajar matematika masih banyak yang menggunakan metode ekspositori, sehingga guru kurang memperhatikan kompetensi yang dimiliki siswa, karena interaksi antara guru dengan siswa hanya berlangsung satu arah. Guru sangat mendominasi dalam menentukan semua kegiatan pembelajaran. Dominasi dalam proses pembelajaran menyebabkan kecendrungan siswa bersifat pasif, sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian dari guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan yang mereka butuhkan. Kondisi seperti ini dialami oleh siswa di kelas VI SD Negeri Pamedaran 03. Banyak siswa yang tidak mampu memecahkan dan menyelesaikan soal-soal yang diberikan sehingga perolehan nilainya rendah (50), masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) matematika kelas VI SD Negeri Pamedaran 03 yaitu 60. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa untuk pelajaran matematika belum memenuhi harapan.

Dari uraian di atas tampak bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang cukup sukar untuk dikuasai dan dipahami oleh sebagian siswa, sehingga matematika merupakan mata pelajaran yang kurang disenangi oleh sebagian siswa. Pendapat ini didukung oleh Ruseffendi (1984:15) yang  menyatakan bahwa: ”Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi, kalau bukan sebagai mata pelajaran yang dibenci.” Pernyataan serupa dikemukakan oleh Wahyudin (1999:253) bahwa: “Matematika merupakan mata pelajaran yang sukar  dipahami.” Berbagai upaya ke arah peningkatan pembelajaran matematika pun terus dilakukan, yaitu melalui perbaikan terhadap strategi, metode,dan teknik pelaksanaan pembelajaran matematika itu sendiri. Berdasarkan pengalaman peneliti di lapangan juga, pembelajara matematika yang digunakan masih menggunakan pembelajaran secara konvensional. Menurut Efendi (2007:2) bahwa penentuan metode pembelajaran yang tepat dapat memudahkan siswa dalam memenuhi materi pelajaran yang diajarkan. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar siswa

Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan mulai dari tingkat SD sampai sekolah tingkat menengah. Sampai saat ini matematika masih dianggap mata pelajaran yang sulit, membosankan, bahkan menakutkan. Anggapan ini mungkin tidak berlebihan selain mempunyai sifat yang abstrak, pemahaman konsep matematika yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasyarat pemahaman konsep sebelumnya.

Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi terciptanya tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru, siswa, dan kurikulum, sarana dan prasarana. Guru mempunyai tugas untuk memilih model dan media pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang disampaikan demi terciptanya tujuan pendidikan.

Sampai saat ini masih banyak ditemukan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa di dalam mempelajari matematika. Salah satu kesulitan itu adalah memahami konsep pada pokok bahasan Bangun ruang sisi lengkung. Akibatnya terjadi banyak kesulitan siswa dalam menjawab soal-soal baik soal-soal ulangan harian, ulangan umum, dan soal-soal UAN yang berhubungan dengan bangun ruang sisi lengkung.

Menurut H. W. Fowler dalam Pandoyo (1997: 1) matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak, sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa. Untuk itu diperlukan model dan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.

Menurut sobel dan Maletsky dalam bukunya Mengajar Matematika (2001: 1-2) banyak sekali guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan kegiatan membahas tugas-tugas, lalu memberi pelajaran baru, memberi tugas kepada siswa.. Pembelajaran seperti di atas yang rutin dilakukan hampir tiap hari dapat dikategorikan sebagai 3M, yaitu membosankan, msembahayakan, dan merusak seluruh minat siswa. Apabila pembelajaran seperti ini terus dilaksanakan maka kompetensi dasar dan indikator pembelajaran tidak dapat tercapai secara maksimal. Selain itu pemilihan media yang tepat juga sangat memberikan peranan dalam pembelajaran.

Selama ini media pembelajaran yang dipakai adalah alat peraga yang terbuat dari tripleks-tripleks. Tetapi seiring dengan berkembangnya teknologi, media pembelajaran tersebut kurang menarik perhatian dan minat siswa. Untuk itu diperlukan suatu media pembelajaran yang dapat lebih menarik perhatian dan minat siswa tanpa mengurangi fungsi media pembelajaran secara umum.

Berdasarkan uraian diatas perlu kiranya dikembangkan suatu tindakan yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa berupa penerapan pembelajaran kelompok tipe STAD dengan media bagan untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengemukakan gagasan-gagasan terhadap pemecahan suatu masalah dalam kelompoknya masing-masing.

Bagan merupakan salah satu dari media pembelajaran dua dimensi atau penyajian secara visual yang menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan-tulisan, atau simbol visual yang lain dengan maksud untuk mengihtisarkan, menggambarkan, dan merangkum suatu ide, data atau kejadian media grafis.Selain itu, fungsi bagan yang lain adalah untuk menunjukkan hubungan, perbandingan, jumlah relative, perkembangan, proses, klasifikasi dan organisasi. Fungsinya yang pokok adalah menyampaikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual. Bagan juga mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu presentasi.

Pemilihan media pembelajaran dengan menggunakan bagan dikarenakan akhir-akhir ini di lingkungan akademis atau pendidikan penggunaan media pembelajaran yang berbentuk bagan bukan merupakan hal yang baru lagi. Penggunaan media pembelajaran matematika yang berbentuk bagan memungkinkan digunakan dalam berbagai keadaan tempat, baik di sekolah, maupun di rumah: serta yang paling utama adalah dapat memenuhi nilai atau fungsi media secara umum.

Berdasarkan uraian di atas, maka judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah “Implementasi Model Pembelajaran kelompok type STAD dengan media bagan untuk meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VI SD Negeri Pamedaran 03”.

 

1.2      Rumusan Masalah

 

Dari latar belakang masalah maka rumusan masalah yang dapat diangkat adalah :

1.      Apakah penerapan model pembelajaran kelompok type STAD dengan media bagan dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa kelas VI SDN Pamedaran 03 ?

2.      Apakah penerapan model pembelajaran kelompok type STAD dengan media bagan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VI SDN Pamedaran 03?

 

 

1.3     Kajian Teori dan Pustaka

 

Menurut J. Bruner dalam Hidayat (2004:8) belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang diberikan kepada dirinya. Pengetahuan perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) manusia yang mempelajarinya. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh jika pengetahuan itu dipelajari dalam tahap-tahap sebagai berikut : (1) tahap enaktif, suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi yang nyata, (2) tahap ikonik, suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan direpresentasikan dalam bentuk gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif, (3) tahap simbolik, suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak, baik simbol-simbol verbal (misalkan huruf-huruf, kata-kata atau kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika maupun lambang-lambang abstrak lainnya (Hidayat, 2004:9).

Suatu proses belajar akan berlangsung secara optimal jika pembelajaran diawali dengan tahap enaktif, dan kemudian jika tahap belajar pertama ini dirasa cukup, siswa beralih ke tahap belajar yang kedua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik. Selanjutnya kegiatan belajar itu dilanjutkan pada tahap tiga, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik.

Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004:1).

Pembelajaran matematika adalah suatu proses yang diselengarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa guna memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan matematika. Suatu proses pembelajaran yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan situasi agar siswa belajar dengan menggunakan model pembelajaran penemuan terbimbing.

Tujuan pembelajaran matematika itu sendiri adalah terbentuknya kemampuan bernalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistimatis dan memiliki sifat obyektif, jujur, disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari

Agar tujuan pengajaran dapat tercapai, guru harus mampu mengorganisir semua komponen sedemikian rupa sehingga antara komponen yang satu dengan lainnya dapat berinteraksi secara harmonis (Suhito, 2000:12). Salah satu komponen dalam pembelajaran adalah pemanfaatan berbagai macam strategi dan metode pembelajaran secara dinamis dan fleksibel sesuai dengan materi, siswa dan konteks pembelajaran (Depdiknas, 2003:1). Sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat memilih model pembelajaran serta media yang cocok dengan materi atau bahan ajar.

Pembelajaran matematika merupakan salah satu bagian dari proses pendidikan di sekolah yang mempunyai peranan sangatpenting dalam upaya mengembangkan kemampuan dan keterampilan berpikir serta membentuk sikap peserta didik. Oleh karena itu, di dalam pembelajaran matematika proses komunikasi yang terjadi di antara guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik harus berlangsung secara harmonis.

Pada umumnya guru dalam mengajar matematika masih banyak yang menggunakan metode ekspositori, sehingga guru kurang memperhatikan kompetensi yang dimiliki siswa, karena interaksi antara guru dengan siswa hanya berlangsung satu arah.Guru sangat mendominasi dalam menentukan semua kegiatan pembelajaran.Dominasi dalam proses pembelajaran menyebabkan kecendrungan siswa bersifat pasif, sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian dari guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan yang mereka butuhkan

Dalam pembelajaran matematika salah satu upaya yang dilakukan oleh guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran kelompok type STAD dengan media bagan karena dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat terjadi proses saling membantu diantara anggota-anggota kelompok untuk memahami konsep-konsep matematika dan memecahkan masalah matematika dengan kelompoknya. Sedangkan penggunaan media dalam pembelajaran matematika sangat menunjang, karena dengan menggunakan media pembelajaran siswa lebih mudah memahami konsep matematika yang abstrak.

Selain itu dalam mempelajari matematika siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda sehingga diperlukan usaha guru untuk : (1) menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga atau media pembelajaran yang menarik perhatian siswa; (2) memberikan kesempatan belajar matematika diberbagai tempat dan keadaan; (3) memberikan kesempatan menggunakan matematika untuk berbagai keperluan; (4) mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan matematika baik di sekolah maupun di rumah; (5) menghargai sumbangan tradisi, budaya dan seni di dalam pengembangan matematika; (6) membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya (Depdiknas, 2003:6)

Pembelajaran kelompok type student team achievement division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kelompok yang paling sederhana dan merupakan pembelajaran kelompok yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kelompok. Menurut Slavin, pada pembelajaran kelompokf tipe STAD siswa dapat ditempatkan dalam kelompok belajar yang beranggotakan empat sampai lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja dalam kelompoknya  untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompoknya telah menguasai materi pelajaran tersebut. Akhirnya kepada seluruh siswa diberikan test tentang materi pelajaran tersebut.Pembelajaran kelompok tipe STAD di kembangkan oleh Robert E. Slavin, di mana pembelajaran tersebut mengacu pada belajar kelompok peserta didik. Dalam satu kelas peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan anggota empat sampai lima orang, setiap kelompok haruslah heterogen.

Jumlah peserta didik bekerja dalam kelompok harus dibatasi, agar kelompok yang terbentuk menjadi efektif, karena ukuran kelompok akan berpengaruh pada kemampuan kelompoknya. Ukuran kelompok yang ideal untuk pembelajaran kelompok tipe STAD adalah empat sampai lima orang. Kelebihan kelompok berempat menurut Lie, Anita (2007:47) antara lain:(1)Mudah dipecah menjadi berpasangan,(2) Lebih banyak ide muncul, (3) Lebih banyak tugas yang bisa dilakukan, (4) Guru mudah memonitor

Pelaksanaan pembelajaran kelompok tipe STAD terdiri atas beberapa tahapan, diantaranya : (1)Tahap Penyajian Materi.Pada tahap ini, guru mulai dengan menyampaikan tujuan pembelajaran umum dan khusus serta memotivasi rasa keingintahuan peserta didik mengenai topik/materi yang akan dipelajari. Dilanjutkan dengan memberikan apersepsi yang bertujuan mengingatkan peserta didik terhadap materi prasyarat yang telah dipelajari agar peserta didik dapat menghubungkan meteri yang akan diberikan dengan pengetahuan yang dimiliki. Teknik penyajian materi pelajaran dapat dilakukan dengan cara klasikal ataupun melalui diskusi. Mengenai lamanya presentasi dan berapa kali harus dipresentasikan bergantung kepada kekompleksan materi yang akan dibahas.(2)Tahap kerja Kelompok.Pada tahap ini peserta didik diberikan lembar tugas sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok ini, peserta didik saling berbagi tugas dan saling membantu penyelesaian agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang akan dibahas dan satu lembar dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Pada tahap ini guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok.(3)Tahap Tes Individual.Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar yang akan dicapai diadakan tes secara individual mengenai materi yang telah dibahas, tes individual biasanya dilakukan setiap selesai pembelajaran setiap kali pertemuan, agar peserta didik dapat menunjukkan apa yang telah dipelajari secara individu selama bekerja dalam kelompok Skor perolehan individu ini dikumpulkan dan diarsipkan untuk digunakan pada perhitungan perolehan skor kelompok.(3)Tahap Perhitungan Skor.Perkembangan Individu.Skor perkembangan individu dihitung berdasarkan skor awal. Perhitungan skor perkembangan individu dimaksudkan agar peserta didik terpacu untuk memperoleh prestasi terbaik sesuai dengan kemampuannya.(5)Tahap Penghargaan Kelompok.Pada tahap ini perhitungan skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan masing-masing skor perkembangan individu kemudian dibagi sesuai jumlah anggota kelompoknya. Pemberian penghargaan diberikan berdasarkan perolehan rata-rata, penghargaan dikategorikan kepada kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super.

Berdasarkan uraian di atas, dalam pembelajaran kelompok yang menggunakan pendekatan STAD guru harus melaksanakan langkah-langkah: penyajian materi, kegiatan kelompok, tes individu, perhitungan skor setiap individu dan penghargaan kelompok. Guru bisa menyajikan materi baik secara klasikal atau pun melalui diskusi, dan tetap harus menyusun perencanaan pelaksanaan pembelajaran dan mempersiapkan lembar kerja peserta didik atau panduan belajar peserta didik, pembentukan kelompok belajar dan menjelaskan pada peserta didik tentang tugas dan perannya dalam kelompok, juga mengenai perencanaan waktu dan tempat duduk peserta didik. Supaya proses pembelajaran terlaksana dengan baik segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan baik pula, agar peran aktif peserta didik dan demokrasi benar-benar terlaksana.

Dengan pemilihan metode yang tepat dan menarik bagi siswa, seperti halnya pembelajaran kelompok type STAD dapat memaksimalkan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa

Menurut H. W. Fowler (Suyitno, 2000:1) matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak. Sehingga untuk menunjang kelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstraksi siswa (Suyitno, 2000:37).

Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan matematika antara lain: (1) untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi; (2) untuk membangkitka minat auat motivasi belajar siswa; (3) untuk membuat konsep matematika yang abstrak, dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami, dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa (Darhim, 1993:10). Jadi salah satu fungsi media pembelajaran matematika adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar, membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati, 1994:78-79).

 

 

3     Metodologi  Penelitian

 

3.1.      Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian ini diadakan di kelas VI SD Negeri Pamedaran 03 tahun pelajaran 2012/2013

3.2.      Subjek dan objek penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Pamedaran 03 tahun pelajaran 2012/2013 sebanyak 25 orang. Sedangkan objeknya adalah kompetensi dasar matematika yang meliputi aspek kognitif, dan aktifitas pembelajaran siswa.

3.3      Variabel-variabel penelitian

Secara umum ada dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Sebagai variabel bebasnya adalah penerapan model pembelajaran kelompok type STAD dengan media bagan dalam pembelajaran matematika kelas VI sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika.

 

3.4.      Prosedur penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama 2 siklus. Rancangan masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi, dan refleksi (Kemmis dan Taggart, 1998). Adapun kreteria keberhasilan untuk setiap siklus adalah jika seluruh subyek penelitian; (1) dapat memahami materi yang sedang dipelajari, (2) dapat menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari, (3) senang dan aktif mengikuti pembelajaran, (4) memperoleh skor pada tes akhir tindakan minimal 60.

 

3.5.      Metode pengumpulan data

Dalam penelitian ini, prosedur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah sebagai berikut: (1) tes pada setiap akhir tindakan, dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari setelah pemberian tindakan. Tes yang diberikan dalam bentuk uraian, karena peneliti ingin mengetahui proses jawaban siswa secara rinci, (2) observasi; observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa selama kegiatan penelitian, sebagai upaya untuk mengetahui adanya kesesuaian antara perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan untuk mengetahui sejauh mana tindakan dapat menghasilkan perubahan yang dikehendaki oleh peneliti. Observasi ini dilakukan oleh peneliti selama pelaksanaan tindakan dalam 2 siklus.

 

3.6.      Teknik analisa data dan kriteria keberhasilan

Data aspek kognitif siswa dianalisis secara deskriptif yaitu dengan menentukan nilai rata-rata, ketuntasan individual, dan ketuntasan klasikal, dengan indikator keberhasilan nilai rata-rata mencapai lebih dari atau sama dengan 60% dan ketuntasan klasikal lebih dari atau sama dengan 80%. Analisis data aktivitas belajar siswa dilakukan secara deskriptif. Kriteria penggolongan aktivitas belajar disusun berdasarkan mean ideal dan standar deviasi ideal.

 

4.      Hasil Penelitian dan Pembahasan

 

Secara sistematik hasil penelitian ini disajikan dalam susunan :

4.1.      Penyusunan Program Tindakan Pembelajaran

Solusi untuk mengatasi masalah penggunaan model pembelajaran kelompok type STAD dengan media bagan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VI SD Negeri Pamedaran 03 perlu disusun kedalam suatu program tindakan pembelajaran. Penyusunan program tindakan pembelajaran dalam arti luas, berlangsung sejak mulai meneliti standar isi, silabus, sampai menyusun RPP. Permasalahan kelas yang perlu diatasi untuk usaha peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika adalah konsentrasi, pemahaman konsep, dan kreatifitas siswa dalam pembelajaran masih kurang. Setelah mendapatkan masalah tersebut dilanjutkan dengan mengidentifikasi faktor penyebab lainnya. Karena mulai pemahaman berbagai kemungkinan penyebab masalah, suatu tindakan dapat dikembangkan. Peneliti menganggap bahwa penyebab masalah adalah kualitas pembelajaran seperti: (1) pembelajaran cenderung satu arah, kurang demokratis, (2) pembelajaran kurang memanfaatkan alat peraga, membosankan, dan (3) di dalam pembelajaran tidak ada bimbingan dari guru terhadap individu maupun kelompok siswa.

Tindakan solusi masalah yang digunakan oleh peneliti, yaitu pembenahan gaya mengajar dengan pemecahan yang akan dikembangkan pada siklus pertama sebagai berikut:

1)      Model pembelajaran yang biasanya cenderung satu arah dibenahi menjadi pembelajaran yang melaksanakan model pembelajaran kelompok type STAD. Penerapan kombinasi pembelajaran ini secara umum diawali dengan pertemuan klasikal untuk memberikan informasi data, penjelasan tentang tugas yang akan dikerjakan serta hal-hal lain yang dianggap perlu. Setelah pertemuan secara klasikal siswa diberi kesempatan kerja dalam kelompok, kemudian bekerja secara perorangan.

2)      Tindakan pembelajaran dengan model pembelajaran kelompok type STAD dengan media bagan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa sebagai berikut: (1) memberitahu standar kompetensi dan kompetensi dasar, inti materi ajar, dan kegiatan yang akan dilakukan; (2) memberikan LKS sesuai materi ajar; (3) menyampaikan materi ajar secara sistematis, simpel, dan menggunakan bagan sebagai media pembelajaran yang dapat membantu pemahaman siswa; (4) mendorong dan membimbing siswa untuk menyampaikan ide; (5) memberikan tugas baik kelompok maupun individu dengan petunjuk yang jelas dan membimbing proses penyelesainnya; (6) merespon setiap pendapat atau perilaku siswa; (7) membimbing siswa membuat rangkuman materi ajar; (8) memberikan PR dengan petunjuk langkah-langkah pengerjaannya.

 

4.2  Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran

 

Pada siklus I materi yang diberikan adalah unsur-unsur dan luas permukaan bangun ruang. Model pembeljaran yang digunakan adalah model pembelajaran kelompok type STAD dengan media bagan. Kelas dibagi menjadi 5 kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 5 siswa. Pengelompokan dilakukan dengan memperhatikan kemampuan siswa, sehingga tiap kelompok terdiri dari siswa yang mempunyai kemampuan di atas, sedang, dan di bawah rata-rata. Pembelajaran dilakukan selama 8 jam (4 kali pertemuan). 3 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan sekali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar. Sedangkan observasi keaktifan siswa dilaksanakan selama berlangsungnya proses pembelajaran.

Pada siklus II materi yang diberikan adalah volume bangun ruang yang diberikan selama 6 jam (3 kali pertemuan). 2 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan sekali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar. Pembenahan yang dilakukan pada siklus II melihat dari observasi pada siklus I terdapat antara lain: (1) pengulangan-pengulangan penggunaan bagan yang dianggap penting, (2) pengelompokan siswa diatur ulang sesuai dengan hasil tes siklus I, (3) Pemberian bimbingan dari guru terhadap kelompok yang kesulitan dalam memecahkan permasalahan, dan (4) memotivasi siswa yang tergolong kurang untuk mewakili kelompoknya mempersentasikan kerja kelompoknya.

 

4.3.      Evaluasi Program Tindakan Pembelajaran

Adapun hasil evaluasi selama program tindakan kelas disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

 

 

siklus

Banyak

Siswa

Hasil Belajar

Ter

Tinggi

Ter

Rendah

Rata-rata

Ketuntasan

I

25

10

4

6,52

76%

II

25

10

5

7,40

92%

Peningkatan

1

0,98

16%

 

Dari data di atas terlihat peningkatan rata-rata hasil belajar dan keaktifan siswa dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 0,98.

Pada siklus I pengelompokan siswa dilakukan dengan mempertimbangkan hasil ulangan I, dimana setiap kelompok terdiri dari siswa pintar, biasa, dan yang bodoh. Dari lima kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 siswa masih tampak mengutamakan penonjolan individu. Hal ini tampak dari anggota kelompok yang lebih syuka mengerjakan ke depan sebelum membantu pemahaman teman sekelompoknya. Untuk mengatasi hal ini peneliti berulang-ulang memberitahukan agar soal-soal LKS didiskusikan terlebih dahulu di dalam kelompoknya, dan bagi siswa yang kurang paham agar menanyakan kepada teman sekelompoknya.

Setiap awal pembelajaran peneliti selalu memberitahukan tujuan pembelajaran, inti materi ajar, dan kegiatan yang dilakukan serta membimbing siswa yang bertujuan untuk membangun hubungan baik dengan siswa. Pada siklus II diadakan beberapa perombakan kelompok, pengelompokan diatur ulang dengan melihat hasil belajar pada siklus I. Diskusi pada siklus II berjalan dengan baik, siswa yang sudah mengerti mau mengerti penjelasan kepada anggota kelompok yang belum paham, sedangkan yang belum paham tidak malu-malu bertanya kepada temannya. Bahkan beberapa siswa sudah berani bertanya kepada guru bila ada soal yang belum dapat dikerjakan kelompoknya. Sedangkan untuk mengerjakan ke papan tulis dilakukan dengan menunjuk wakil tiap kelompoknya, penunjukan dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa agar lebih berani mengemukakan pendapat. Pada siklus II ini guru lebih banyak memberikan bimbingan pada siswa yang nilainya kurang pada siklus II. Bila dibandingkan dengan siklus I hasil yang diperoleh pada siklus II hampir semua aspek mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan penerapan model pembelajaran kelompok type STAD dengan media bagan dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas belajar matematika siswa kelas VI SD Negeri Pamedaran 03 tahun pelajaran 2012/2013.

 

5.  Penutup

 

            Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Implementasi Model Pembelajaran Kelompok type STAD dengan media bagan dapat meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VI SD Negeri Pamedaran 03. Hal ini dapat dilihat dari terjadinya peningkatan skor rata-rata kelas dari 6,52 pada siklus I menjadi 7,40 pada siklus II, dan dapat ketuntasan belajar siswa juga meningkat dari 76 % pada siklus I menjadi 92 % pada siklus II.Keaktifan siswa juga mengalami kenaikan dari sebesar 76% pada siklus I dan sebesar 92% pada siklus II atau meningkat sebesar 16 %.

            Berdasarkan simpulan di atas, maka dikemukakan saran-saran berikut (a) Disarankan kepada guru matematika kelas VI SD untuk mencobakan pembelajaran di atas dengan lebih banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dalam kelompoknya dan guru membantu seperlunya saja karena pembelajaran tersebut dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif, (b) Disarankan kepada peneliti lain untuk mengembangkan model pembelajaran di atas dan mencobanya di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Depdikbud. 1993. Kurikulum Pendidikan dasar. Jakarta: Depdikbud

 

Dimyati, Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdikbud

 

Hidayat. 2004. Diktat Kuliah Teori Pembelajaran Matematika. Semarang: FMIPA UNNES.

 

Nurkancana, Wayan & Sunartana. 1992. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s